Info Terbaru
Memiliki Kekayaan Sejati

Memiliki Kekayaan Sejati

Al-ghinaa fis shudur. Begitulah Islam mengajarkan makna kekayaan yang sejati. Kekayaan bukanlah banyak harta benda, melainkan kekayaan hati di mana seseorang merasa bahagia karena mampu menyerap rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Keluasan hati saat seseorang mampu menekan hawa nafsunya, bersikap menerima dan mensyukuri apa yang ada, inilah merupakan kekayaan yang sebenarnya.

Seseorang yang memiliki kekayaan hati akan selalu bahagia. Apapun kondisinya, ia selalu optimis. Ia akan berpikiran positif terhadap kondisi yang ia alami dan percaya bahwa hal itu merupakan garis ketentuan yang dipercayakan Allah Swt. kepadanya. Setelah berdoa dan berusaha, selebihnya akan ia kembalikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah sikap orang-orang yang memiliki kekayaan hati.

Jika disederhanakan, kekayaan hati muncul dari dua sikap: sabar dan syukur. Seseorang yang memiliki kekayaan hati akan bersabar dalam setiap musibah dan bersyukur dalam setiap karunia yang ia terima. Dua sikap ini sangat penting bagi kondisi jiwa seseorang, sehingga hal ini menjadi tolok ukur keimanan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Salah satu perilaku positif dalam memunculkan kekayaan hati adalah memberi. Karena memberi merupakan pangkal kebahagiaan. Sebaliknya, meminta atau menuntut merupakan sumber keresahan. Ketika kita memberi akan muncul perasaan lega dan gembira. Sebaliknya, kalau kita menuntut, apalagi jika tuntutannya tidak dipenuhi, kita akan merasa jengkel dan kecewa.

The Miracle of Giving

Jika kita perhatikan, memberi merupakan sunnatullah dan watak dari alam semesta. Bumi, matahari, tumbuh-tumbuhan, sungai, dan lautan, misalnya, mereka semuanya hanya memberi, tak pernah meminta apa pun dari kita. Sifat ‘pemberi’ yang disematkan kepada bumi, matahari, tumbuh-tumbuhan, sungai, dan lautan tak lain merupakan bentuk ‘tasbih’ mereka kepada Sang Maha Pemberi, yakni Allah ‘Azza wa Jalla.

Bagi kita yang diciptakan sebagai makhluk sosial perlu memiliki sifat pemberi. Karena dengan saling memberi akan tercipta peradaban yang adiluhung dan harmonis. Dalam konteks kemasyarakatan, kita sering mendengar adanya the law of giving yang mengajarkan sejumlah hal, antara lain: Pertama, apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Atau dalam bahasa pepatah, “Siapa menabur angin, ia akan menuai badai.”

Kedua, kalau kita memberi pasti kita akan mendapat. Seringkali kita terjebak pada logika sempit, di mana muncul persepsi, kalau kita memberi maka ada sesuatu yang hilang. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Apa yang kita berikan tidak pernah hilang, bahkan ada semacam kekekalan energi di situ. “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl [16]: 96).

Ketiga, memberi dahulu, baru kemudian kita mendapat. Ungkapan take and give (mendapat dan lalu memberi) yang populer dalam masyarakat kita, mungkin perlu diganti dengan ungkapan, “give and receive” (memberi dan lalu mendapat).

Namun dalam konteks keislaman, kita diberikan begitu banyak informasi tentang the miracle of giving atau keajaiban bersedekah, baik dari Al-Quran maupun Al-Hadits. Misalnya, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (pembayarannya oleh Allah) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak,” (QS. Al-Hadid: 18).

Sementara dalam sebuah hadits dari Rasulullah Saw.: “Sesungguhnya sedekah seseorang walau hanya sesuap, akan dikembangbiakkan oleh-Nya seperti gunung, maka bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedekah merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan oleh Baginda Rasulullah Saw. untuk dilakukan setiap hari, bahkan sejak pagi. Dalam konteks ini beliau bersabda: “Setiap datang waktu pagi, ada dua malaikat yang turun dan keduanya berdoa. Malaikat pertama memohon kepada Allah, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang memberi nafkah’, sementara malaikat satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikan kehancuran bagi orang yang pelit,’” (HR. Bukhari & Muslim).

Bersedekah bukan hanya milik kaum berpunya (materi). Bersedekah juga dianjurkan bagi mereka yang miskin harta. Karena bersedekah tidak melulu soal uang atau barang, melainkan juga soal kesediaan hati berbagi bahagia dengan sesamanya. Terkait hal ini terdapat sebuah hadits yang sangat baik untuk disimak:

Abu dzar menerangkan bahwa sebagian sahabat Rasulullah Saw. berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya itu pergi dengan banyak pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana yang kami kerjakan, mereka berpuasa sebagaimana yang kami kerjakan, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta yang mereka miliki, sementara kami tidak bisa melakukannya. Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu untuk kalian yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (subhanallah) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (La Ilaha Illallah) adalah sedekah, menyeru kepada kebaikan adalah sedekah dan bersetubuh dengan istri juga sedekah. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jika di antara kami menyalurkan hasrat biologisnya juga mendapat pahala? Beliau menjawab, “Bukankah jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa? Maka demikian pula apabila ia menyalurkan pada yang halal, ia juga akan mendapatkan pahala,” (HR. Muslim).

Begitu banyak macam cara bersedekah, sehingga orang-orang miskin pun mampu bersedekah. Bahkan senyumpun merupakan sedekah dan mampu menyebarkan potensi kebahagiaan bagi orang lain. Boleh jadi, perbuatan sederhana seperti senyum, mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil biasa dilakukan. Namun untuk sedekah materi masih banyak orang yang ’ogah-ogahan’ karena merasa dirinya bukanlah orang kaya yang harus bersedekah kepada oarng lain.

Mental seperti ini, sejatinya, adalah penyakit hati. Sebab jika hal ini dipelihara akan menumbuhkan sifat yang berbahaya, yang oleh orang Sunda biasa disingkat dengan KPK: koret, pelit, dan korun. Untuk memberangus sifat ini dibutuhkan kebesaran hati agar dirinya memiliki mental kaya.

Membangun Mental Kaya

Kekayaan hati adalah perkara jiwa atau bersifat psikologis. Artinya, untuk memiliki kekayaan hati maka yang perlu dibangun adalah sikap atau mental kaya. Pada dasarnya mental kaya hanya dimiliki orang-orang berjiwa besar. Orang-orang berjiwa kerdil akan selalu merasa sebagai orang miskin yang merasa tidak mampu memberi atau membantu orang lain. Sebaliknya justru dia merasa sebagai sosok yang perlu mendapatkan pertolongan.

Namun, memiliki mental kaya, sesungguhnya dapat dibiasakan atau dilatih hingga seseorang yang awalnya pelit dapat berubah menjadi dermawan. Dalam sejumlah literatur, saya menemukan beberapa cara agar kita dapat mengembangkan mental kaya:

Pertama, menyakini bahwa harta yang kita miliki adalah titipan dan amanah yang diberikan Allah ‘Azza wa Jalla untuk menguji seberapa kuat kita memikul titipan dan amanah tersebut. Dalam hal ini Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan kita: “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar,” (QS. Al-Anfal [8]: 28).

Kedua, tidak takut miskin karena rajin bersedekah. Sebagaimana nasihat Rasulullah Saw. kepada Bilal: “Bersedekahlah, Wahai Bilal! Jangan takut kekurangan dari pemilik ‘Arsy,” (HR. Bazzar dan Thabrani).

Ketiga, takut ancaman dan hukuman dari Allah ‘Azza wa Jalla untuk orang-orang pelit. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di Hari Kiamat. Dan kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS: Ali Imran: 180).

Keempat, meyakini bahwa sedekah yang ia lakukan pada hakekatnya adalah untuk dirinya sendiri, bukan orang lain yang menikmatinya. Firman Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan hal ini: “..dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Al-Muzzammil: 20).

Kelima, memiliki keinginan kuat untuk mendapatkan naungan pada Hari Pembalasan, yakni saat kesulitan manusia memuncak dan matahari didekatkan dengan ubun-ubun manusia. Ketika itulah orang-orang yang suka bersedekah mendapat jaminan. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah disebutkan, ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, salah satunya adalah orang yang bersedekah dan menyembunyikannya.

Lengkapnya, hadits tersebut berbunyi: “Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yakni: Pemimpin yang adil; Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ibadah kepada Rabbnya; Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid; Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah; Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata: ‘Aku takut kepada Allah’; Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; dan Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis,” (HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712).

Melalui lima cara di atas kita dapat belajar memiliki mental kaya. Orang yang sudah memiliki mental kaya akan cepat bereaksi ketika ada seseorang yang membutuhkan pertolongannya. Semampunya akan dia usahakan agar mampu menolong orang lain, baik dengan harta atau fisiknya. Orang-orang yang memiliki mental kaya juga mampu memberikan hal-hal lain yang dimilikinya, seperti tenaga, pikiran, ide dan gagasan, serta doa, atau memberikan perhatian, cinta, dan kasih sayang.

Namun, untuk meraih kebaikan dari Allah ‘Azza wa Jalla atas pemberian yang kita berikan, tentu saja harus berdasarkan keikhlasan. Memberi tak boleh dilakukan karena pertimbangan bisnis (QS Al-Muddatstsir [74]: 6), tetapi karena pertimbangan kebaikan (QS Ali Imran [3]: 92). Memberi juga bukan solusi menang-menang (win-win solution), melainkan jalan keluar menuju kebesaran (greatness), meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla, dan kebahagiaan (happiness) abadi di dunia dan akhirat.

Wallahu A’lam bish Shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates