Info Terbaru
Meneladani Sosok Kartini

Meneladani Sosok Kartini

Siapa yang tak kenal Kartini? Dialah sosok pembaharu bagi wanita Indonesia. Kartini tampil sebagai pejuang harkat dan martabat wanita Indonesia. Kartini tercatat dalam tinta emas sejarah negeri  ini bersama pejuang-pejuang wanita lainnya, seperti Malahayati, Dewi Sartika, Tjut Nyak Dhien, Tjut Nyak Meutia, Nyi Ageng Serang, Martha Christina Tiahahu, dan lain sebagainya.

Setiap tanggal 21 April bangsa ini memperingati Hari Kartini. Inilah hari di mana Kartini (nama lengkapnya RA Kartini) dilahirkan di Kota Jepara pada tahun 1987 silam. Melalui kegundahan Kartini, lahirlah pemikiran cerdas yang pada akhirnya turut mengubah perjalanan sejarah kaum wanita Indonesia. Sosok yang terlahir dari kalangan priayi kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat seorang Bupati Jepara ini memperjuangkan hak-hak kaumnya pada saat itu.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria, bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya. Kartini sendiri hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya, di mana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.

Hingga akhirnya, “Door Duisternis tot Licht” yang gubahannya dalam bahasa Indonesia disebut “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi bukti kepeloporan Kartini dalam memperjuangkan hak-hak kaumnya. Itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Upaya dari putri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya.

Peran Wanita dalam Islam

Kiprah Kartini yang memperjuangkan harkat dan martabat kaum wanita, sejatinya, bukanlah yang pertama. Jauh sebelum Kartini berjuang membela kaumnya, terdapat banyak tokoh wanita yang rela berkorban memperjuangkan harkat dan martabat bangsanya. Mereka berdiri sejajar dengan para lelaki, bahu-membahu untuk menegakkan kebenaran di atas bumi pertiwi. Di antara mereka, kita tentu pernah mendengar sosok Malahayati.

Perempuan bernama asli Keumalahayati ini dikenal sebagai sosok tangguh yang membawahi 2.000 pasukan Inong Balee untuk berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda. Atas keberaniannya, perempuan yang pada tahun 1585-1604 menjabat sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah itu dianugerahi gelar Laksamana Malahayati.

Perjuangan Kartini, Malahayati, Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Cut Meutia, Nyi Ageng Serang, dan pejuang wanita lainnya itu, sejatinya, sejalan dengan ajaran Islam. Mereka yang memperjuangkan harkat dan martabat kaum wanita serta turut bertempur di medan perang adalah wanita-wanita terhormat yang tidak hanya mulia dalam pandangan manusia, tetapi juga mendapat tempat mulia dalam Islam.

Sebagai agama rahmatan lil ‘Alamin, wanita menduduki posisi yang sangat terhormat. Bahkan Islam merupakan agama yang menyelamatkan wanita dari kesewenang-wenangan. Ketika Islam datang di era jahiliyah, anak laki-laki dipandang lebih baik dibanding dengan anak perempuan. Bahkan pada zaman tersebut lazim ditemukan kisah tentang anak perempuan yang dikubur hidup-hidup oleh orang tua mereka karena dianggap membawa aib dan kesusahan bagi keluarga.

Umar bin Khathab pernah berkata, “Pada masa jahiliyah, wanita itu tak ada harganya bagi kami. Sampai akhirnya Islam datang dan menyatakan bahwa wanita itu sederajat dengan laki-laki.” Saat Islam datang, wanita diperlakukan dengan sangat mulia. Islam benar-benar datang untuk membebaskan wanita dari belenggu kondisi saat itu. Tentu saja efeknya terasa hingga saat ini, di mana Islam memberikan arahan bagi kehormatan setiap wanita.

Islam mengemukakan jika wanita memiliki peran yang sangat strategis dalam kehidupan. Jika saja setiap wanita mampu memahami peran tersebut, maka ia akan dapat memberi kontribusi besar dalam pembentukan masyarakat islami. Beberapa peran strategis itu adalah:

Pertama, wanita berperan sebagai seorang ibu. Posisi sebagai ibu merupakan posisi yang sangat terhormat karena bertanggung jawab untuk menyiapkan dan mencetak generasi unggul di masa depan. Tentu saja seorang ibu tidak seutuhnya menjadi penanggung jawab terlahirnya generasi unggul ini. Seorang ayah pun harus turut membantunya. Dalam hal ini Rasulullah Saw. secara jelas menunjukkan prinsip ini dalam haditsnya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka ibu dan bapaknyalah yang berperan mengubah anak itu menjadi seorang Yahudi, Nasrani, dan Majusi,” (HR. Bukhari).

Dalam hal pola asuh, seorang ibu memiliki peran sangat vital. Sifat wanita yang lemah lembut, penuh cinta, dan perhatian merupakan sifat yang sangat cocok untuk mendidik dan mengasuh anak. Maka tak heran jika ada pepatah yang mengatakan: “Al-umm madrasatul ula”, seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ibu adalah The Planner of The Future, karena dialah yang menyadari proses kehidupan. Ketika ia mempunyai anak, maka ia akan menyadari bahwa anak adalah aset keluarga dan aset umat.

Kedua, wanita berperan sebagai seorang istri. Kita sering mendengar adagium, di balik kesuksesan seorang suami terdapat peran seorang istri yang luar biasa. Tanpa peran seorang istri yang luar biasa, seorang suami tidak akan mampu meraih kesuksesan. Peran seorang istri yang baik, salehah, berwawasan luas, dan taat pada suami menjadi faktor kesuksesan seorang suami. Sebaliknya, peran istri yang tidak baik, hedonis, dan jauh dari ajaran Islam malah akan mendorong seorang suami ke dalam lubang kehancuran.

Dalam literatur Islam, kita bisa mengambil contoh dari sosok Khadijah. Dia adalah wanita tangguh yang berperan penting dalam menguatkan dakwah Rasulullah Saw. Khadijah termasuk wanita pertama yang masuk Islam. Artinya dia adalah salah satu pendukung utama sekaligus membenarkan ajaran yang diterima oleh suaminya. Dengan begitu, pasti hari-harinya diisi dengan upaya motivasi dan dorongan kepada suaminya (karena saat itu banyak orang yang tidak mempercayai apa yang disampaikan Rasulullah Saw.). Itulah salah satu sebab mengapa Rasulullah Saw. begitu mencintai Khadijah. Hingga Khadijah pun dijuluk “Khadijah Alkubra. Bahkan saat Khadijah wafat, tahun tersebut disebut dengan amul huzni (tahun duka cita).

Ketiga, wanita berperan sebagai anggota masyarakat. Sebagai bagian dari anggota masyarakat, kontribusi wanita sangat dibutuhkan masyarakat sekitarnya. Lihatlah Kartini yang pemikirannya menjadi inspirasi bagi wanita-wanita di Indonesia untuk membangun masyarakat. Demikian pula dengan Dewi Sartika yang mendirikan sekolah bagi wanita di lingkungannya. Atau Malahayati dan Cut Nyak Dhien yang dengan kegigihannya turut mengusir penjajah di negeri Serambi Mekkah.

Di zaman Rasulullah Saw. banyak tokoh wanita yang bisa dijadikan referensi, di antaranya ‘Aisyah binti Abu Bakar yang menjadi istri Rasulullah Saw. dan sosok Nasibah binti Kaab (Ummu Imarah). Peran ‘Aisyah sudah sering kita dengar sebagai seorang istri Rasulullah Saw. yang banyak meriwayatkan hadits beliau. ‘Aisyah dikenal sebagai sosok cerdas dan menjadi tempat bertanya para sahabat selepas Rasulullah Saw. wafat. Bahkan dalam sejumlah peperangan, ‘Aisyah pun tak segan turut berjuang membela panji Islam.

Peran Nasibah binti Kaab (Ummu Imarah) pun tak kalah mentereng. Ummu Imarah turut membantu kaum Muslimin dalam medan perang. Pada perang Uhud, Ummu Imarah turut menyiapkan dan membawakan air untuk kaum Muslimin. Bahkan Ummu Imarah membentengi Rasulullah saw. dengan pedang dan busur panah saat kaum kafir ingin membunuh beliau. Bersama Mush’ab bin Umair, Ummu Imarah berhasil menghalau sabetan pedang dari pihak Quraisy bernama Ummu Ibnu Qaimah. Sehingga Rasulullah Saw. pernah berkata bahwa saat perang Uhud, setiap melihat ke kanan-kirinya, yang didapati adalah Ummu Imarah yang selalu membentenginya.

Itulah tiga peran umum yang dapat diperagakan setiap wanita di tengah kehidupannya. Di masa kini, ketiga peran tersebut sangat penting dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih lagi bagi wanita Muslimah yang semestinya tetap menjaga diri, menjaga akhlak, berwawasan luas, dan senantiasa menjaga keimanannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab melalui para wanita salehah inilah generasi unggul akan tercipta agar keharuman Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin senantiasa terjaga.

Wallahu A’lam bish Shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates